Pagelaran Wayang Hebohkan Senayan City

Last updated on: Published by: gelorabungkarno-admin 0

Jakarta – Bakti Budaya Djarum Foundation bersama seniman muda Indonesia menggelar seni wayang bertema “Jabang Tetuko, an Immmersive Cultural Experience” di Senayan City, Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (28/5/2011). Pagelaran digelar berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi generasi muda saat ini yang semakin ‘miskin’ atas warisan seni budaya Indonesia.

Seni wayang ini dikemas secara modern tanpa meninggalkan estetika dan nilai-nilai budaya yang bersumber dari kekayaan hasil budaya Indonesia. “Jabang Tetuko” adalah hasil sebuah perpaduan antara unsur seni pertunjukan tradisional antara wayang orang, wayang kulit, dan orkestra. Seni menggunakan teknologi multimedia yang dikemas secara kontemporer. Dilengkapi dengan tata musik sinematis yang dimainkan secara live di lokasi.

Jabang Tetuko berarti kelahiran superhero sejati. “Kami memang sengaja masih mengangkat tema heroik, karena menurut saya ini masih tergolong permulaan. Tujuanya agar lebih mudah menarik minat generasi muda khususnya anak-anak, untuk membangkitkan kecintaan terhadap budaya sendiri,” tutur Ki Dalang Agus Sambowo saat ditemui tim Liputan6.com usai pagelaran, Sabtu (28/5).

Pagelaran “Jabang Tetuko” tidak tanggung-tanggung. Selain menggandeng sutradara berbakat, Mirwan Suwarso, pagelaran wayang tiga dimensi ini juga menghadirkan penata musik film Hollywood Deane Ogden. Ogden telah menghasilkan karyanya dalam The Surrogates, Tron dan The Hitlist.

Bukan hanya itu, pagelaran seni wayang modern pertama kali di Indonesia ini juga menggandend penata laga film Fast & Furious dan Transformer 3, Benjamin Rowe. Sehingga tak heran jika pagelaran langka ini menghasilkan nuansa baru dan tentunya sangat spektakuler.

Pagelaran yang cukup langka ini diselenggarakan dua hari berturut-turut 27-28 Mei 2011 di Hall Senayan City. Cerita berasal dari India, mitos Mahabarata di Pulau Jawa, Gatot Kaca, yang sengaja diangkat dengan cerita yang cukup sederhana. Tujuannya agar lebih mudah dicerna masyarakat khususnya generasi muda sekarang.

Sementara sang sutradara, Mirwan Suwarso, mengaku pagelaran seni wayang modern ini memang sengaja diangkat secara lebih apik. Ini sesuai dengan kondisi saat ini. Melihat kondisi masyarakat saat ini khususnya generasi muda yang cenderung tergeser budaya modern.

“Ini merupakan refleksi dari ungkapan kesedihan sehubungan dengan kebudayaan Indonesia. Saya sedih melihat anak-anak Indonesia lebih mengenal Ben-10 dan Spong Bob ketimbang Gatot Kaca atau Rama dan Shinta,” ujar Mirwan.

Karena itu, dengan munculnya pagelaran seni wayang modern ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat, ksusunya generasi muda supaya tidak lupa akan budaya luhur bangsa dan terus melanjutkan untuk melestarikanya.

Related posts

Добавить комментарий

Ваш адрес email не будет опубликован. Обязательные поля помечены *